Tri Khasanah

Guru di SD Negeri 1 Bojong Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga. Bersyukur bisa menjadi anggota Mediaguru. ...

Selengkapnya

Berlumur Darah di Hari Ulang Tahunnya

Berlumur Darah di hari Ulang Tahunnya

Entah kenapa suasana di pagi itu sangat berbeda. Tidak seperti hari-hari biasanya. Rasa malas menggelayut dalam jiwa. Ditambah lagi, rintik hujan di pagi hari. Sungguh suasana yang sangat mendukung untuk menarik selimut dan kembali tidur lagi. Ah, jika saja hal itu pantas, sudah pasti aku lakukan. Berpikir kembali sebelum bertindak. Aku seorang pendidik. Jika hal itu kulakukan, bagaimana murid-muridku nanti. Baiklah, aku harus bergegas untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah.

Selang beberapa menit, ada tamu yang datang ke rumahku. Ternyata wali murid yang minta izin karena anaknya sakit tidak masuk ke sekolah. Jarum jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Rasanya terlalu pagi jika aku berangkat di jam itu. Sambil menunggu waktu berjalan, aku membuka laptop untuk mengisi Daftar Hadir Guru dan Tenaga Kependidikan secara online. Ternyata, servernya sedang bagus. Hingga selesai lancar tanpa hambatan.

Aku berangkat ke sekolah. Melaksanakan kegiatan rutinitas seperti biasanya. Tugaspun selesai, Aku pamit untuk pulang ke rumah. Hari itu, suamiku menjaga toko sendirian. Pasalnya, mas Dedi yang membantu di toko kami sedang ijin untuk persiapan pernikahannya. Baiklah, aku akan membantu suamiku.

Waktu terus berjalan, aku melaksanakan sholat Ashar. Terdengar ramai di sebelah luar ruanganku. Ternyata, ada panen duku di kebun ibuku. Ada anak-anak dan beberapa ibu-ibu yang sedang asyik nyethong duku. Ssssttt, Nyenthong duku itu istilah yang digunakan oleh orang-orang di sekitarku untuk mengambil duku yang terjatuh ketika sedang dipetik oleh pemiliknya.

Selang beberapa menit, ada tamu yang datang. Seperti biasanya dia mengucapkan salam. Langsung masuk dan melihat-lihat seisi ruanganku. Tamu yang datang itu ternyata Pak Usman Sampurno. Teman dekat yang sudah seperti kakakku. Suamiku memanggilku. Akupun bergegas datang menemuinya.

"Oh, Pak Usman. Hemmm akhirnya datang juga ke sini. Hehe..." (Kataku kepadanya)

"Kamu sedang tidur ya? Kok cemberut begitu?" ( Kata Pak Usman)

"Nggak kok, lagi di dalam sambil nonton TV." (Jawabku)

"Ooh, gimana kabarnya? Sudah lama tidak bertemu, sibuk ya?" ( Kata Pak Usman )

"Kabarnya baik, seperti biasanya. Pulang sekolah langsung di toko." (Jawabku)

Pak Usman duduk di kursi yang ada di sebelah mesin foto kopi. Suamiku tetap asyik dengan laptopnya untuk mengerjakan beberapa pesanan pelanggan kami. Ada Pak Usman rasanya senang sekali hati ini. Aku bisa bercerita panjang lebar dan seperti biasanya Beliau selalu menjadi pendengarku. Seperti biasa pula Beliaupun mengambil kesimpulan tentang apa yang aku ceritakan.

"Ceritanya sudah? Ambil air, minum dulu sana !" (Suruh Pak Usman)

"Aku lagi puasa." (Jawabku)

Ooh, ya bagus..." (Jawab Pak Usman )

"Masih ingatkah pesan yang aku berikan? Jiwa sosial yang aku bicarakan apa masih kamu kerjakan? Jangan hanya fokus pada urusan dunia. Bersyukur atas apa yang sudah ada." (Nasehat dari Pak Usman )

"Iya, masih selalu dikerjakan. Di sini Ada kotak amal dari panti asuhan dari kecamatan sebelah. Suamiku juga menjadi donatur untuk panti asuhan yang ada di kecamatan seberang." (Jawabku pelan)

"Jadi kotak itu masih ada di toko ini. Jika belum ada kotak yang terpasang, bisa aku beri kotak dari LAZISMU yang bisa di isi oleh siapapun di toko ini. Tapi karena sudah ada yang memasangnya ya sudah dilanjutkan saja. " (Kata Pak Usman )

Tiba-tiba terdengar jeritan, saudaraku berteriak melihat anaknya Berlumur Darah. Semua orang berlarian mengejarnya. Aku ikut berlari menuju sumber suara itu. Ternyata, anak dari saudaraku terjatuh. Seorang penderes yang mengambil air nira di kebun ibuku mencoba menolongnya. Namun, menjadi celaka. Yah... Gina, nama anak saudaraku itu. Ketika Gina terjatuh, penderes itu berusaha menolongnya. Maksud hati untuk menggendongnya tetapi dia lupa kalau di samping badannya ada Arit tajam yang terpasang di sabuknya. Subhanallah... Sangat mengerikan. Tangan mungil nan lemah itu tergores begitu lebar dan dalam. Hingga darah mengalir deras.

Aku ikut berteriak. Menyuruh agar Gina segera dibawa ke rumah Bu Bidan yang ada di dekat rumahku. Pak Usman juga ikut membantunya. Mengarahkan kepada saudaraku agar menutup luka itu. Saudara yang lain ikut berpartisipasi menyiapkan motor untuk memboncengkan Ibu dan anaknya yang terluka. Suasana menjadi tegang. Rasa panik menyelimuti semua orang yang melihat peristiwa itu.

"Sudah, semoga semuanya baik-baik saja. Ini kecelakaan. Tidak ada yang perlu disalahkan. Mari kita fokuskan pada pengobatan Gina saja." (Begitu perintahku)

Sesaat suasana menjadi hening. Tanpa ada suara ataupun kata-kata. Tiba-tiba terdengar suara motor yang membawa Gina tadi. Kok cepat sekali pengobatannya, pikirku dalam hati. Ada rasa kaget dan bertambah panik ketika melihatnya. Ternyata kondisi Gina masih tetap sama seperti pada waktu sebelum di bawa ke rumah Bu Bidan.

"Kok balik lagi, kenapa belum di perban? Apa Bu Bidan tidak ada di rumahnya?" (Tanyaku terbata-bata)

"Bu Bidan, tidak bisa menanganinya, dia menyuruh aku untuk membawa ke rumah sakit" (jawab ibunya Gina sambil menangis)

"Ooh, tunggu apalagi, segera bawa ke sana. Stop mobil, segera bawa sebelum terlambat." ( Teriakku ikut panik)

Ayah Gina seorang supir. Ada tetanggaku yang kemudian menghubunginya. Karena tak sabar takut ada apa-apa. Akhirnya, Gina dibawa ke PKU Bobotsari yang terdekat oleh adik ibunya Gina. Waktu semakin sore, Pak Usman memanggilku.

"Bu Tri, aku pamit. Ini sudah hampir petang. Jangan lupa tugas yang aku berikan kepadamu." (Pesan Pak Usman )

"Iya, siap dikerjakan. Terima kasih sudah bersilaturahmi ke sini." Jawabku kembali.

"Mas Hari, aku pamit yaa..." ( Kata Pak Usman kepada suamiku)

"Tunggu sebentar Pak Usman, ada Dukuh yang bisa dibawa untuk oleh-oleh." ( Kata suamiku)

Suamiku menyiapkan Dukuh dan memberikannya kepada Pak Usman. Benar sekali, ternyata Adzan Maghrib telah berkumandang. Aku segera mengambil air minum untuk membatalkan puasaku. Bergegas sholat dan memandangi menu makanan yang sudah aku siapkan sejak siang tadi. Rasa laparku menghilang. Aku memikirkan nasib Gina. Takut terjadi apa-apa kepadanya. Aku mengambil sedikit nasi dan beberapa lauk yang ada. Memakannya tanpa rasa.

Penderes yang ada di kebun ibuku datang menemuiku dan suami. Menerangkan kronologi yang terjadi. Dia tampak pucat dan gemetar ketakutan. Baiklah, itu sebuah kecelakaan, berdoa saja agar semuanya baik-baik saja. Silahkan pulang ke rumah, Istirahatlah. Yang penting Besok menjenguk ke rumah sakit dan minta maaflah meski itu tidak sengaja. Begitu pesanku kepadanya. Akhirnya dia berpamitan untuk pulang.

Melihat penderes itu ketakutan, aku kembali teringat kondisinya Gina. Bagaimana jika terjadi hal yang tidak diinginkan kepadanya.

"Mas, aku minta tolong. Antar aku ke PKU Bobotsari. Aku ingin melihat kondisi Gina." ( Aku meminta bantuan suamiku)

"Baiklah, segera siap-siap." ( Jawab suamiku)

Aku dan suamiku langsung menuju PKU Bobotsari. Sesampainya di sana, langsung menemui petugas bagian informasi. Ternyata Gina dirujuk ke RS Goeteng yang ada di Purbalingga. Petugas bilang, lukanya terlalu lebar sehingga mereka tidak mampu menanganinya. Aku dan suamiku saling berpandangan.

"Mas, segera kita susul Gina ke RS Goeteng. Lukanya berbahaya, Aku takut ada apa-apa dengan Gina." (Aku meminta bantuan suamiku kembali)

Sepanjang perjalanan, ada rasa khawatir dalam hatiku. Ingin segera sampai ke ruang IGD yang ada di RS itu. Pintu masuk segera kami lewati, terlihat sedang duduk terdiam ayah Gina. Ada dua kakak Ibunya Gina juga di sana. Aku mengajak suamiku untuk bergegas menuju kesana. Ternyata, ruang IGD terlihat sesak. Aku dan suamiku tidak bisa masuk ke ruangan itu. Aku menemui kakak Ibunya Gina. Bercerita tentang tingkah laku Gina ketika sebelum terluka. Tiba-tiba ayah Gina memanggilku.

"Tri, tolong masuk ke sini." ( Ayah Gina menyuruhku mengikutinya)

"Iya." ( jawabku singkat sambil mengikuti ayah Gina)

"Tulisan ini terlalu kecil, aku tidak bisa membacanya. Ibunya Gina juga tidak bisa membacanya karena tidak memakai kaca mata" ( perintah ayah Gina )

Aku angkat surat perjanjian tentang operasi itu. Membacakannya pelan-pelan sambil sesekali menerangkannya kepada mereka. Intinya, dalam operasi nanti, bius yang akan dipakai menggunakan bius lokal. Jadi, hanya daerah tangan saja yang akan dibius ketika dioperasi. Mereka mengangguk tanda paham. Aku disuruh menuliskan semua administrasi yang harus dilengkapinya. Apa saja yang harus disiapkan dan memesankan ruang rawat inap untuk Gina. Ketika aku membaca tanggal lahirnya Gina. Subhanallah, hari ini tanggal dua belas Maret. Tepat di tanggal kelahirannya. Kasihan sekali Gina, berlumur darah dan harus sampai operasi tepat di hari ulang tahunnya. Empat tahun genap usianya. Apakah ibunya tahu kalau hari ini ulang tahunnya? (Pikirku dalam hati).

Alhamdulillah, aku datang tepat waktu. Di saat mereka membutuhkan bantuanku. Ada rasa lega yang aku rasakan setelah menyelesaikan semuanya. Ternyata, tangan Gina akan di operasi saat itu juga. Aku dan suamiku menemui Gina. Memandangi wajah mungil tampak pucat. Bocah polos dan lugu. Segera sembuh ya Gina. Nanti bisa bermain lagi dengan Syifa. Gina memang sering main ke rumahku. Dia adalah teman bermain anakku. Aku dan suamiku berpamitan setelah beberapa menit. Kembali ke rumah dengan rasa lebih tenang dari sebelumnya.

Purbalingga, 13 Maret 2018

Tri Khasanah

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

mrmbacanya, jadi ikut terharu. semiga gina lekas sembuh.....

13 Mar
Balas

Aamiin, terima kasih Ibu Eti...

13 Mar

Kasihan Si Gina. Semoga lekas sembuh.

13 Mar
Balas

Aamiin, terima kasih Ibu Yuli...

13 Mar
Balas

Semoga Gina lks sembuh Bu

13 Mar
Balas

Aamiin, terima kasih Ibu Isminatun...

13 Mar
Balas

Semoga cepat sembuh ya gina..salam

13 Mar
Balas

Semoga lekas sembuh ya Gina

13 Mar
Balas

Haduuuh tegang sekalii bacanya,,lekas sembuh ya Gina,,selamat ulang tahun,,tabah dan kuat yaa

16 Mar
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali